Porsi Pajak Rokok untuk Kendalikan Paparan Asap Rokok


Momen Saat Bang Sani Pimpin Rapat Balegda di DPRD DKI Jakarta

Momen Saat Bang Sani Pimpin Rapat Balegda di DPRD DKI Jakarta

Jakarta – Pemerintah Provinsi (Pemprov) Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakarta harus lebih intensif mengendalikan paparan asap rokok terhadap warga nonperokok. Oleh karenanya porsi penerimaan pajak daerah dari rokok harus seoptimal mungkin dimanfaatkan untuk penegakan aturan larangan merokok di ruang publik serta sosialisasi bahaya merokok bagi generasi muda. Hal tersebut merupakan masukan DPRD bagi Pemprov DKI dalam pembahasan Peraturan Daerah tentang Pajak Rokok oleh Badan Legislasi Daerah (Balegda) DPRD, Rabu (6/2) di gedung DPRD DKI Jakarta di kawasan Kebon Sirih, Jakarta Pusat.

Ketua Badan Legislasi Daerah DPRD DKI Jakarta Triwisaksana menyatakan bahwa penambahan jumlah perokok dan makin mudanya usai perokok di Indonesia. Seperti diketahui, menurut ketentuan yang biasa disebut earmarking, 50% dari porsi penerimaan daerah dari pajak rokok mesti digunakan untuk kesehatan masyarakat dan penegakan hukum. Hal tersebut, menurut Triwisaksana, mesti dioptimalkan karena saat ini masih banyak dijumpai warga merokok seenaknya di ruang publik dan tidak dilakukan upaya penegakan hukum. “Di pusat perbelanjaan, tempat rekreasi, rumah makan, tempat pertemuan, bahkan di rumah sakit, kekurangan tenaga penegak aturan larangan merokok masih menjadi kendala,” keluh Triwisaksana yang juga Wakil Ketua DPRD DKI ini.

Ia juga mengingatkan bahwa paparan asap rokok di DKI Jakarta juga merupakan fenomena ‘buang asap’ dari wilayah-wilayah tetangga. “Asap rokok dari para perokok yang bukan penduduk Jakarta, namun juga dari mereka yang bekerja di Jakarta dan menghabiskan sebagian besar waktunya di Jakarta, jumlahnya sangat banyak. Dinas Pajak perlu memikirkan konsep kompensasinya,” ujar pria yang akrab disapa Sani ini.

Selain itu, Triwisaksana mengingatkan agar Pemprov DKI menggunakan anggaran pengendalian asap rokok dari bagian pajak rokok secara kreatif untuk mencegah generasi muda Jakarta menjadi perokok aktif. “Jika hanya bikin iklan bahaya merokok, maka pasti akan kalah dalam jumlah dan kreatifitas dari para produsen rokok,” ujarnya. Ia menganjurkan agar perang melawan rokok melibatkan masyarakat, terutama generasi muda. Ia meyakini dengan keterlibatan masyarakat yang lebih intens maka akan lebih mudah menyusupkan nilai-nilai anti kecanduan rokok. [Ded]

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: